BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Leukimia adalah sekumpulan penyakit yang
ditandai oleh adanya akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang
dan darah. Sel-sel abnormal ini menyebabkan timbulnya gejala
karena,kegagalan sum-sum tulang dan infiltrasi organ misalnya hati, limpa,
kelenjar getah bening,meninges, otak, kulit, atau testis. Kegagalan sum-um
tulang menimbulkan gejala berupa anemia, netropenia, trombositopenia.
Leukemia dapat dibagi menjadi 2 yaitu,
leukemia akut dan Kronis, yang masing-masing lebih lanjut dibagi menjadi
limfoid atau mieloid. Kelainan mielo proliferatif, sekelompok keadaan yang
ditandai dengan proliferasi abnormal satu atau leih sel-sel hemopoetik dalam
sumsum tulang dan pada banyak kasus juga di hepar, limpa. Sel-sel hemopoetik
yaitu, eritroid,granulosit dan monosit, serta Megakariosit. Sedangkan Kelainan
Limfo proliferatif,sekelompok keadaan yang ditandai oleh proliferasi abnormal
sistem limforetikuler (limfosit,plasmosit, histiosit). Leukemia akut biasanya
merupakan penyakit yang bersifat agresif, dengan transformasi ganas yang
menyebabkan terjadinya akumulasi progenitor hemopoietik sumsum tulang dini,disebut
sel blas. Gambaran klinis dominan penyakit-penyakit ini biasanya adalah
kegagalan sumsum tulang yang disebabkan akumulasi sel blas walaupun juga
terjadi infiltrasi jaringan. Apabila tidak diobati, penyakit ini biasanya cepat
bersifat fatal, tetapi, secara paradoks, lebih mudah diobati dibandingkan
leukemia kronik.
Leukemia akut didefinisikan sebagai adanya
lebih dari 30% sel blas dalam sumsum tulang pada saat manifestasi klinis.
Leukemia akut selanjutnya dibagi menjadi leukemia mieloidakut (AML) dan
Leukemia Limfoblastik akut (ALL) berdasarkan apakah sel blasnya terbukti sebagai
mieloblas atau limfoblas.
Leukemia Limfositik Akut (LLA) sering
terjadi pada anak-anak usia di bawah 14 tahun, ditandai dengan berkembangnya
sel darah putih yang tidak normal sehingga menyebabkan pucat, pusing, pembesaran kelenjar getah bening, demam, nyeri, dan
perdarahan sebagaimana manifestasi klinis. LLA merupakan salah satu
masalah penting pada kanker anak. Sebagai strategi untuk meningkatkan manajemen
masalah kanker anak, khususnya LLA, diperlukan gambaran epidemiologi dan hasil
pengobatan pasien. Berdasarkan hasil penelitian di RS Kanker Dharmais
(2000-2008), LLA banyak ditemukan pada anak laki-laki dengan usia 1-5tahun. LLA
L1 dengan risiko biasa adalah jenis LLA terbanyak.Dari penelitian,
44,9%pasien meninggal dan 27,5 % hidup.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
pengertian acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
2. Apa
etiologi dari acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
3. Apa
tanda dan gejala terjadinya acute lymphoblastic
leukemia (ALL?
4. Bagaimana
patofisiologi terjadinya
acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
5. Apa
saja komplikasi yang dapat ditimbulkan dari
acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
6. Bagaimana
penatalaksanaan medis dan keperawatan pada acute
lymphoblastic leukemia (ALL)?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang pada acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
8. Bagaimana asuhan keperawanan pada acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
C. TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengertian acute lymphoblastic leukemia (ALL).
2. Untuk
mengetahui etiologi dari acute lymphoblastic leukemia (ALL.
3. Untuk
mengetahui tanda dan gejala terjadinya
acute lymphoblastic leukemia (ALL).
4. Untuk
mengetahui bagaimana patofisiologi terjadinya acute lymphoblastic leukemia
(ALL.
5. Untuk
mengetahui apa saja komplikasi yang dapat ditimbulkan dari acute
lymphoblastic leukemia (ALL).
6. Untuk
mengetahui bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan pada kasus acute lymphoblastic
leukemia (ALL).
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
8. Untuk
mengetahui asuhan keperawatan pada
acute lymphoblastic leukemia (ALL).
BAB
II
LANDASAN TEORI
A. DEFINISI
ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
Leukimia
Limfoblastik Akut (ALL)
adalah proliferasi maligna/ganas limfoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan
oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik. (Smeltzer et al, 2008)
Leukemia lymphoblastic
akut ( ALL atau juga disebut leukemia limfositik akut ) adalah kanker darah dan
sumsum tulang . Kanker jenis ini biasanya semakin memburuk dengan cepat jika
tidak diobati. ALL adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-anak .
Pada anak yang sehat , sumsum tulang membuat sel-sel induk darah ( sel yang
belum matang ) yang menjadi sel-sel darah dewasa dari waktu ke waktu . Sebuah
sel induk dapat menjadi sel induk myeloid atau sel induk limfoid
(National Cancer Institute, 2014).
Leukemia adalah keganasan organ
pembuat darah, sehingga sumsum tulang didominasi oleh limfoblas yang abnormal.
Leukemia limfoblastik akut adalah keganasan yang sering ditemukan pada masa
anak-anak (25-30% dari seluruh keganasan pada anak), anak laki lebih sering
ditemukan dari pada anak perempuan, dan terbanyak pada anak usia 3-4 tahun.
Faktor risiko terjadi leukimia adalah faktor kelainan kromosom, bahan
kimia, radiasi,
faktor hormonal, dan infeksi virus (Ribera, 2009).
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) adalah suatu keganasan pada
sel-sel prekursor limfoid, yakni sel darah yang nantinya akan berdiferensiasi
menjadi limfosit T dan limfosit B. LLA ini banyak terjadi pada anak-anak yakni
75%, sedangkan sisanya terjadi pada orang dewasa. Lebih dari 80% dari kasus LLA
adalah terjadinya keganasan pada sel T, dan sisanya adalah keganasan pada sel
B. Insidennya 1 : 60.000 orang/tahun dan didominasi oleh anak-anak usia
< 15 tahun, dengan insiden tertinggi pada usia 3-5 tahun. (Landier
, 2008)
Menurut Wong (2009), Leukimia merupakan proliferasi tanpa batas
sel darah putih yang imatur dalam jaringan tubuh yang membentuk darah sehingga
menekan produksi unsur-unsur darah yang terbentuk dalam sum-sum tulang. Sel
imatur ini kemudian menginfiltrasi dan mengganti jaringan tubuh dengan sel-sel
leukimia nonfungsional, sehingga dengan tidak sengaja sel-sel imatur ini
menyerang dan menghancurkan sel darah normal/jaringan vaskuler.
B. ETIOLOGI ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
1. Genetik
a.
Keturunan
Adanya
Penyimpangan Kromosom
Insidensi
leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada
sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich,
sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome,
sindroma von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital
ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada kromosom
21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti
pada aneuploidy.
Saudara
kandung
Dilaporkan
adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik dimana kasus-kasus
leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal ini berlaku juga pada
keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi
b.
Faktor Lingkungan
Beberapa
faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom dapatan,
misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan insiden
yang meningkat pada leukemia akut, khususnya ALL ,
2. Virus
Dalam
banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus menyebabkan leukemia
pada hewan termasuk primata. Penelitian pada manusia menemukan adanya RNA
dependent DNA polimerase pada sel-sel leukemia tapi tidak ditemukan pada
sel-sel normal dan enzim ini berasal dari virus tipe C yang merupakan virus RNA
yang menyebabkan leukemia pada hewan. (Wiernik, 1985). Salah satu virus yang
terbukti dapat menyebabkan leukemia pada manusia adalah Human T-Cell
Leukemia . Jenis leukemia yang ditimbulkan adalah Acute T- Cell
Leukemia.
3. Bahaya Kimia
dan Obat-obatan
a.
Bahan Kimia
Paparan
kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan peningkatan
insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang sering terpapar benzen.
Selain benzen beberapa bahan lain dihubungkan dengan resiko tinggi dari AML,
antara lain : produk – produk minyak, cat , ethylene oxide, herbisida,
pestisida, dan ladang elektromagnetik
b. Obat-obatan
Obat-obatan
anti Imunosupresif (misal : obat karsinogenik seperti
diethylstillbestrol) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan
kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML
4. Radiasi
Hubungan
yang erat antara radiasi dan leukemia (ALL) ditemukan pada
pasien-pasien anxylosing spondilitis yang mendapat terapi
radiasi. Peningkatan resiko leukemia ditemui juga pada pasien yang
mendapat terapi radiasi misal : pembesaran thymic, para pekerja yang
terekspos radiasi dan para radiologis .
5. Leukemia
Sekunder
Leukemia
yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain
disebut Secondary Acute Leukemia ( SAL ) atau treatment related
leukemia. Termasuk diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker
payudara. Hal ini disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk
golongan imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan DNA. (Wong, 2009)
C. MANIFESTASI KLINIS ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
1.
Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2.
Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
3.
Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh
sel leukemia), biasanya terjadi pada anak
4.
Demam, banyak berkeringat pada malam hari (hipermetabolisme)
5.
Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis.
Penyebab tersering adalah gramnegatif usus, stafilokokus, streptokokus, serta jamur
6.
Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
7.
Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati
8.
Massa di mediastinum (T-ALL)
9.
Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan
intrakranial naik, muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan
neurologik fokal, dan perubahan statusmental. (Wong, 2009)
D.
PATOFISIOLOGI ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
Komponen sel darah terdiri atas
eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan leukosit atau sel darah putih (WBC)
serta trombosit atau platelet. Seluruh sel darah normal diperoleh dari sel
batang tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum tulang. Sel batang dapat
dibagi ke dalam lymphpoid dan sel batang darah (myeloid), dimana pada
kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagi sepanjang jalur tunggal
khusus. Proses ini dikenal sebagai hematopoiesis dan terjadi di dalam sumsum
tulang tengkorak, tulang belakang., panggul, tulang dada, dan pada proximal
epifisis pada tulang-tulang yang panjang.
ALL meningkat dari sel batang
lymphoid tungal dengan kematangan lemah dan pengumpulan sel-sel penyebab
kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai tingkat pengembangan
lymphoid yang berbeda dalam sumsum tulang mulai dari yang sangat mentah
hingga hampir menjadi sel normal. Derajat kementahannya merupakan
petunjuk untuk menentukan/meramalkan kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi
ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya ada leukositosis, kadang-kadang
leukopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah, demikian pula
kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya
menunjukkan sel-sel blas yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel
stem pluripoten, kemudian sel stem limfoid, pre pre-B, early B, sel B
intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid dan sel plasma. Limfosit T juga
berasal dari sel stem pluripoten, berkembang menjadi sel stem limfoid, sel
timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, dan menjadi sel limfosit T
helper dan limfosit T supresor.
Peningkatan produksi leukosit juga melibatkan
tempat-tempat ekstramedular sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar
limfe dan hepatosplenomegali. Sakit tulang juga sering dijumpai. Juga timbul
serangan pada susunan saraf pusat, yaitu sakit kepala, muntah-muntah,
“seizures” dan gangguan penglihatan.
Sel kanker
menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang berlebihan.
Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan
menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam
sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan
jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke
berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit
kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian.
Penurunan
jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah trombosit mempermudah
terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.). Adanya sel
kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan
gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi. Adanya sel
kanker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan.
(Ngastiyah,2007)
E.
KOMPLlKASI PADA ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
1.
Perdarahan
Akibat defisiensi trombosit (trombositopenia). Angka
trombosit yang rendah ditandai dengan:
a. Memar (ekimosis)
b. Petekia
(bintik perdarahan kemerahan atau keabuan sebesar ujung jarum dipermukaan
kulit) Perdarahan berat jika angka trombosit < 20.000 mm3 darah.
Demam dan infeksi dapat memperberat perdarahan.
2. Infeksi
Akibat kekurangan granulosit matur dan normal. Meningkat
sesuai derajat netropenia dan disfungsi imun.
3. Pembentukan
batu ginjal dan kolik ginjal.
Akibat penghancuran sel besar-besaran saat kemoterapi
meningkatkan kadar asam urat sehingga perlu asupan cairan yang tinggi.
4. Anemia
5. Masalah
gastrointestinal.
a. mual
b. muntah
c. anoreksia
d. diare
e. lesi
mukosa mulut
(Aster, 2007)
F.
PENATALAKSANAAN
MEDIS DAN KEPERAWATAN
Penatalaksanaan medis
1. Leukemia Limfoblastik Akut
Tujuan pengobatan adalah mencapai
kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal
bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi
perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu,
tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.
Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita
mungkin memerlukan: transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi
trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi.
Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang
selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri dari
prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan
antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel leukemik di otak,
biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan
terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah
pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan
pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel
leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel leukemik bisa
kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah zakar. Pemunculan
kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah yang sangat serius.
Penderita harus kembali menjalani kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang
menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada penderita ini. Jika sel leukemik
kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal
sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar,
biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi penyinaran.
Penatalaksanaan lain:
1. Pelaksanaan kemoterapi
Sebagian
besar pasien leukemia menjalani kemoterapi. Jenis pengobatan kanker ini
menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel leukemia. Tergantung pada jenis
leukemia, pasien bisa mendapatkan satu jenis obat atau kombinasi dari dua obat
atau lebih.
Pasien leukemia bisa mendapatkan kemoterapi dengan berbagai
cara:
a. Melalui mulut
b. Dengan suntikan langsung ke pembuluh
darah balik (atau intravena)
c. Melalui kateter (tabung kecil yang
fleksibel) yang ditempatkan di dalam pembuluh darah balik besar,
seringkali di dada bagian atas - perawat akan menyuntikkan obat ke dalam
kateter, untuk menghindari suntikan yang berulang kali. Cara ini akan
mengurangi rasa tidak nyaman dan/atau cedera pada pembuluh darah balik/kulit.
d. Dengan suntikan langsung ke cairan
cerebrospinal – jika ahli patologi menemukan sel-sel leukemia dalam cairan yang
mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang, dokter bisa memerintahkan
kemoterapi intratekal. Dokter akan menyuntikkan obat langsung ke dalam cairan
cerebrospinal. Metode ini digunakan karena obat yang diberikan melalui suntikan
IV atau diminum seringkali tidak mencapai sel-sel di otak dan sumsum tulang
belakang.
Pengobatan
umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua fase yang digunakan untuk
semua orang.
a.
Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian
besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi
kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena
obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses membunuh sel leukemia.
Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi yaitu daunorubisin,
vincristin, prednison dan asparaginase.
b. Tahap 2 (terapi
konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi
intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk
mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini
dilakukan setelah 6 bulan kemudian.
c. Tahap 3 (
profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada
SSP. Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang
lebih rendah. Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda,
kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah leukemia
memasuki otak dan sistem saraf pusat
d. Tahap 4 (pemeliharaan
jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi.
Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun. Angka harapan hidup yang membaik
dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya 95% anak dapat mencapai remisi
penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80% orang dewasa mencapai remisi
lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang, yang dicapai
dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.
2. Terapi Biologi
Orang dengan jenis penyakit leukemia tertentu menjalani
terapi biologi untuk meningkatkan daya tahan alami tubuh terhadap kanker.
Terapi ini diberikan melalui suntikan di dalam pembuluh darah balik. Bagi
pasien dengan leukemia limfositik kronis, jenis terapi biologi yang digunakan
adalah antibodi monoklonal yang akan mengikatkan diri pada sel-sel leukemia.
Terapi ini memungkinkan sistem kekebalan untuk membunuh sel-sel leukemia di
dalam darah dan sumsum tulang. Bagi penderita dengan leukemia myeloid kronis,
terapi biologi yang digunakan adalah bahan alami bernama interferon untuk
memperlambat pertumbuhan sel-sel leukemia.
3. Terapi Radiasi
Terapi Radiasi (juga disebut sebagai radioterapi)
menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Bagi
sebagian besar pasien, sebuah mesin yang besar akan mengarahkan radiasi pada
limpa, otak, atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel-sel leukemia
ini. Beberapa pasien mendapatkan radiasi yang diarahkan ke seluruh tubuh.
(radiasi seluruh tubuh biasanya diberikan sebelum transplantasi sumsum tulang.)
4. Transplantasi Sel
Induk (Stem Cell)
Beberapa pasien leukemia menjalani transplantasi sel induk
(stem cell). Transplantasi sel induk memungkinkan pasien diobati dengan dosis
obat yang tinggi, radiasi, atau keduanya. Dosis tinggi ini akan menghancurkan
sel-sel leukemia sekaligus sel-sel darah normal dalam sumsum tulang. Kemudian,
pasien akan mendapatkan sel-sel induk (stem cell) yang sehat melalui tabung
fleksibel yang dipasang di pembuluh darah balik besar di daerah dada atau
leher. Sel-sel darah yang baru akan tumbuh dari sel-sel induk (stem cell) hasil
transplantasi ini. Setelah transplantasi sel induk (stem cell), pasien biasanya
harus menginap di rumah sakit selama beberapa minggu. Tim kesehatan akan melindungi
pasien dari infeksi sampai sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi mulai
menghasilkan sel-sel darah putih dalam jumlah yang memadai.
5. Transfusi
darah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada trombositopenia
yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi trombosit dan bila
terdapat tanda‑tanda DIC dapat diberikan heparin.
6. Kortikosteroid
(prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai remisi
dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.
7. Sitostatika.
Selain sitostatika yang lama (6‑merkaptopurin atau 6‑mp, metotreksat atau MTX)
pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin
(oncovin), rubidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L‑asparaginase,
siklofosfamid atau CPA, adriamisin dan sebagainya. Umumnya sitostatika
diberikan dalam kombinasi bersama‑sama dengan prednison. Pada pemberian obat‑obatan
ini sering terdapat akibat samping berupa alopesia, stomatitis, leukopenia,
infeksi sekunder atau kandidiagis. Hendaknya lebih berhziti‑hati bila jumiah
leukosit kurang dari 2.000/mm3.
8. Infeksi
sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita diisolasi dalam kamar yang bersih
dari hama).
9. Imunoterapi,
merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah tercapai remisi dan jumlah sel
leukemia cukup rendah (105 ‑ 106), imunoterapi mulai
diberikan. Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG
atau dengan Corynae bacterium dan dimaksudkan agar terbentuk antibodi yang
dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan spesifik dikerjakan dengan
penyuntikan sel leukemia yang telah diradiasi. Dengan cara ini diharapkan akan
terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel leukemia, sehingga semua sel
patologis akan dihancurkan sehingga diharapkan penderita leukemia dapat sembuh
sempurna.
10. Cara pengobatan.
Setiap klinik mempunyai cara
tersendiri bergantung pada pengalamannya. Umumnya pengobatan ditujukan
terhadap pencegahan kambuh dan mendapatkan masa remisi yang lebih lama. Untuk
mencapai keadaan tersebut, pada prinsipnya dipakai pola dasar pengobatan
sebagai berikut:
a. Induksi
Dimaksudkan untuk mencapai remisi,
yaitu dengan pemberian berbagai obat tersebut di atas, baik secara sistemik
maupun intratekal sampai sel blast dalam sumsum tulang kurang dari 5%.
b. Konsolidasi
Yaitu agar sel yang tersisa tidak
cepat memperbanyak diri lagi.
c. Rumat (maintenance)
Untuk mempertahankan masa remisi,
sedapat‑dapatnya suatu masa remisi yang lama. Biasanya dilakukan dengan
pemberian sitostatika separuh dosis biasa.
d. Reinduksi
Dimaksudkan untuk mencegah relaps.
Reinduksi biasanya dilakukan setiap 3‑6 bulan dengan pemberian obat‑obat
seperti pada induksi selama 10‑14 hari.
e. Mencegah
terjadinya leukemia susunan saraf pusat.
Untuk hal ini diberikan MTX
intratekal pada waktu induksi untuk mencegah leukemia meningeal dan
radiasi kranial sebanyak 2.4002.500 rad. untuk mencegah leukemia meningeal dan
leukemia serebral. Radiasi ini tidak diulang pada reinduksi.
f. Pengobatan
imunologik
Diharapkan semua sel leukemia dalam
tubuh akan hilang sama sekali dan dengan demikian diharapkan penderita dapat
sembuh sempurna. ( Ribera, 2009)
G.
PEMERIKSAAN PENUNJANG ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
Pemeriksaan penunjang mengenai
leukemia adalah :
1.
Hitung darah lengkap menunjukkan
normositik, anemia normositik(Jumlah sel darah merah
abnormal rendah namun ukuran selnya normal)
2. Hemoglobin
: dapat kurang dari 10 g/100 ml
3. Retikulosit(Mengetahui eritrosit yang belum imatur) : jumlah
biasanya rendah
4. Jumlah
trombosit : mungkin sangat rendah (<50.000/mm)
5. SDP :
mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur (mungkin
menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.
6. PT/PTT (Partial
Thromboplastin Time)
adalah waktu yang dibutuhkan
bagi darah untuk menggumpal: Nilai rujukan/normal PTT yakni : 26 – 35
detik pada ALL memanjang
7.
LDH (Lactic Acid Dehydrogenase) adalah
enzim yang membantu memproduksi energi : mungkin meningkat
8.
Asam urat serum/urine : mungkin meningkat
9.
Muramidase serum (lisozim) :
penigkatan pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.
10. Copper serum
: meningkat
11. Zinc serum :
meningkat/ menurun
12. Biopsi
sumsum tulang : SDM abnormal biasanya lebih dari 50 % atau lebih dari SDP pada
sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan prekusor eritroid, sel
matur, dan megakariositis menurun.
13. Foto dada
dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan
(Ngastiyah,
2008)
F. ASUHAN KEPERAWATAN ALL
1. Pengkajian
keperawatan
a. Identitas
Acute
lymphoblastic leukemia sering terdapat pada anak-anak usia di bawah 15
tahun (85%) , puncaknya berada pada usia 2 – 4 tahun. Rasio lebih sering
terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
b. Riwayat
Kesehatan
1) Keluhan
Utama : Pada anak keluhan yang sering muncul tiba-tiba adalah demam,
lesu dan
malas makan atau nafsu makan berkurang, pucat (anemia) dan kecenderungan
terjadi perdarahan.
2) Riwayat
kesehatan masa lalu : Pada penderita ALL sering ditemukan riwayat
keluarga yang erpapar oleh chemical toxins (benzene dan arsen), infeksi virus
(epstein barr, HTLV-1), kelainan kromosom dan penggunaan obat-obatann seperti
phenylbutazone dan khloramphenicol, terapi radiasi maupun kemoterapi.
3) Pola
Persepsi - mempertahankan kesehatan : Tidak spesifik dan berhubungan
dengan kebiasaan buruk dalam mempertahankan kondisi kesehatan dan kebersihan
diri. Kadang ditemukan laporan tentang riwayat terpapar bahan-bahan kimia dari
orangtua.
4) Pola
Nurisi : Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anorexia,
muntah, perubahan sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan menelan,
serta pharingitis. Dari pemerksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen,
penurunan bowel sounds, pembesaran limfa, pembesaran hepar akibat invasi
sel-sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus, stomatitis,
ulserasi oal, dan adanya pmbesaran gusi (bisa menjadi indikasi terhadap
acute monolytic leukemia)
5) Pola
Eliminasi : Anak kadang mengalami diare, penegangan pada perianal,
nyeri abdomen, dan ditemukan darah segar dan faeces berwarna ter, darah dalam
urin, serta penurunan urin output. Pada inspeksi didapatkan adanya abses
perianal, serta adanya hematuria.
6) Pola
Tidur dan Istrahat : Anak memperlihatkan penurunan aktifitas dan
lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah mengalami
kelelahan.
7) Pola
Kognitif dan Persepsi : Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami
penurunan kesadaran (somnolence) , iritabilits otot dan “seizure activity”,
adanya keluhan sakit kepala, disorientasi, karena sel darah putih yang abnormal
berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.
8) Pola
Mekanisme Koping dan Stress : Anak berada dalam kondisi yang lemah dengan
pertahan tubuh yang sangat jelek. Dalam pengkajian dapt ditemukan adanya
depresi, withdrawal, cemas, takut, marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan
peerubahan suasana hati, dan bingung.
9) Pola
Seksual : Pada pasien anak-anak pola seksual belum dapat dikaji
10) Pola
Hubungan Peran : Pasien anak-anak biasanya merasa kehilangan
kesempatan bermain dan berkumpul bersama teman-teman serta belajar.
11) Pola
Keyakinan dan Nilai : Anak pra sekolah mengalami kelemahan umum dan
ketidakberdayaan melakukan ibadah.
12) Pengkajian
tumbuh kembang anak.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.
Resiko infeksi
berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
2. Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan output berlebih yang ditandai dengan mual
dan muntah
3. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output berlebih yang ditandai dengan anoreksia,
malaise, mual dan muntah
4.
Nyeri berhubungan dengan
efek fisiologis dari leukemia
5. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
|
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
TUJUAN (NOC)
|
INTERVENSI (NIC)
|
|
1.
|
Resiko infeksi
Definisi : Peningkatan resiko
masuknya organisme patogen
Faktor-faktor resiko :
- Prosedur
Infasif
- Ketidakcukupan
pengetahuan untuk menghindari paparan patogen
- Trauma
- Kerusakan
jaringan dan peningkatan paparan lingkungan
- Agen
farmasi (imunosupresan)
- Malnutrisi
- Peningkatan
paparan lingkungan patogen
- Imonusupresi
- Ketidakadekuatan
imum buatan
- Tidak
adekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, Leukopenia, penekanan respon
inflamasi)
- Tidak
adekuat pertahanan tubuh primer (kulit tidak utuh, trauma jaringan, penurunan
kerja silia, cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, perubahan
peristaltik)
|
NOC :
v Immune Status
v Knowledge :
Infection control
v Risk control
Kriteria Hasil :
v menurunkan tanda dan
gejala infeksi
v Menunjukkan
kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
v Menunjukkan perilaku
hidup sehat
|
NIC :
Infection Control (Kontrol
infeksi)
· Bersihkan
lingkungan setelah dipakai pasien lain
· Pertahankan
teknik isolasi bila diperlukan
· Batasi
pengunjung bila perlu
· Instruksikan
pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
meninggalkan pasien
· Gunakan
sabun antimikrobia untuk cuci tangan
· Cuci
tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawtan
· Pertahankan
lingkungan aseptik selama pemasangan alat
· Gunakan
kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
· Tingktkan
intake nutrisi
· Berikan
terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (proteksi
terhadap infeksi)
· Monitor
tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
· Monitor
hitung granulosit, WBC
· Monitor
kerentanan terhadap infeksi
· Saring
pengunjung terhadap penyakit menular
· Partahankan
teknik aseptik
pada pasien yang beresiko
- Inspeksi
kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas
· Dorong
masukkan nutrisi yang cukup
· Dorong
masukan cairan
· Dorong
istirahat
· Instruksikan
pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
· Ajarkan
pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
· Ajarkan
cara menghindari infeksi
· Laporkan
kecurigaan infeksi
|
|
2.
|
Resiko tinggi kekurangan volume
cairan berhubungan dengan output
berlebih yang ditandai dengan mual dan muntah
Definisi : Penurunan cairan
intravaskuler, interstisial, dan/atau intrasellular. Ini mengarah ke
dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium
Batasan Karakteristik :
- Kelemahan
- dehidrasi
- Penurunan
turgor kulit
- Membran
mukosa/kulit kering
- Peningkatan
denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan nadi
- Temperatur
tubuh meningkat
- Hematokrit
meninggi
Faktor-faktor yang berhubungan:
- Kehilangan
volume cairan secara aktif
- Kegagalan
mekanisme pengaturan
|
NOC:
v Fluid balance
v Hydration
v Nutritional Status :
Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
v Mempertahankan urine
output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
v Tekanan darah, nadi,
suhu tubuh dalam batas normal
v Tidak ada tanda
tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab
|
NIC :
Fluid management
· Pertahankan
catatan intake dan output yang akurat
· Monitor
status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik ), jika diperlukan
· Monitor
vital sign
· Monitor
masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
· Kolaborasikan
pemberian cairan IV
· Monitor
status nutrisi
· Berikan
cairan IV · Dorong
masukan oral
· Dorong
keluarga untuk membantu pasien makan
· Tawarkan
snack ( jus buah, buah segar )
· Kolaborasi
dokter jika tanda cairan berlebih muncul atau memburuk
· Atur
kemungkinan tranfusi
· Persiapan
untuk tranfusi
|
|
3.
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh b/d output berlebih yang ditandai dengan anoreksia,
malaise, mual dan muntah
Definisi : Intake nutrisi tidak
cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.
Batasan karakteristik :
- Berat
badan 20 % atau lebih di bawah ideal
- Dilaporkan
adanya intake makanan yang kurang dari RDA (Recomended Daily Allowance)
- Membran
mukosa dan konjungtiva pucat
- Dilaporkan
atau fakta adanya kekurangan nafsu
makan
- Perasaan
ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
- Keengganan
untuk makan
- Suara usus
hiperaktif
Faktor-faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan atau
mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor
biologis, psikologis atau ekonomi.
|
NOC :
v Nutritional Status :
food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
v Adanya peningkatan berat
badan sesuai dengan tujuan
v Mampu
mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
v Tidak ada tanda
tanda malnutrisi
v Menurunkan resiko penurunan
berat badan yang berarti
|
NIC :
Nutrition Management
§ Kaji adanya alergi
makanan
§ Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
§ Anjurkan pasien
untuk meningkatkan intake Fe
§ Anjurkan pasien
untuk meningkatkan protein dan vitamin C
§ Berikan substansi
gula
§ Yakinkan diet yang
dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
§ Monitor jumlah
nutrisi dan kandungan kalori
§ Berikan informasi
tentang kebutuhan nutrisi
§ Kaji kemampuan
pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
§ BB pasien dalam batas
normal
§ Monitor adanya
penurunan berat badan
§ Monitor tipe dan
jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
§ Monitor lingkungan
selama makan
§ Jadwalkan
pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
§ Monitor kulit kering
dan perubahan pigmentasi
§ Monitor turgor kulit
§ Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan mudah patah
§ Monitor mual dan
muntah
§ Monitor kadar
albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
§ Monitor makanan
kesukaan
§ Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
§ Monitor pucat,
kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
|
|
4.
|
Nyeri berhubungan dengan efek
fisiologis dari leukemia
Definisi :
Sensori yang tidak menyenangkan
dan pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan
jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri
Internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai
berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan
durasi kurang dari 6 bulan.
Batasan karakteristik :
- Laporan
secara verbal atau non verbal
- Fakta
dari observasi
- Tingkah
laku berhati-hati
- Gangguan
tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
- Terfokus
pada diri sendiri
- Respon
autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi
dan dilatasi pupil)
- Tingkah
laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel,
nafas panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan
dalam nafsu makan dan minum
Faktor yang berhubungan :
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis)
|
NOC :
v Pain Level,
v Pain control,
v Comfort level
Kriteria Hasil :
v Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri, mencari bantuan)
v Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
v Mampu mengenali
nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
v Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri berkurang
v Tanda vital dalam
rentang normal
|
NIC :
Pain Management
§ Lakukan pengkajian
nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
§ Observasi reaksi
nonverbal dari ketidaknyamanan
§ Gunakan teknik
komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
§ Bantu pasien dan
keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
§ Kontrol lingkungan
yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
§ Kurangi faktor
presipitasi nyeri
§ Pilih dan lakukan
penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
§ Berikan analgetik
untuk mengurangi nyeri
§ Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
§ Tingkatkan istirahat
§ Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
Analgesic Administration
§ Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
§ Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
§ Cek riwayat alergi
§ Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama kali
§ Berikan analgesik
tepat waktu terutama saat nyeri hebat
§ Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
|
|
5.
|
Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan akibat anemia
Definisi : Ketidakcukupan energu
secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan
aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.
Batasan karakteristik :
a. melaporkan
secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
b. Respon
abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
c. Perubahan
EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
d. Adanya
dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.
Faktor factor yang berhubungan :
· Tirah
Baring atau imobilisasi
· Kelemahan
menyeluruh
· Ketidakseimbangan
antara suplei oksigen dengan kebutuhan
· Gaya
hidup yang dipertahankan.
|
NOC :
v Energy conservation
v Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
v Berpartisipasi dalam aktivitas
fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR.
v Mampu melakukan aktivitas
sehari hari (ADLs) secara mandiri
|
NIC :
Energy Management
v Observasi adanya
pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
v Dorong anak untuk
mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
v Kaji adanya factor
yang menyebabkan kelelahan
v Monitor
nutrisi dan sumber energi tangadekuat
v Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
v Monitor respon
kardivaskuler terhadap aktivitas
v Monitor pola tidur
dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
v Kolaborasikan dengan
Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.
v Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
v Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
v Bantu untuk
mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
v Bantu untuk
mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
v Bantu untu
mengidentifikasi aktivitas yang disukai
v Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan diwaktu luang
v Bantu
pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
v Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif beraktivitas
v Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi diri dan penguatan
v Monitor respon
fisik, emosi,
social dan spiritual
|
DAFTAR
PUSTAKA
Ribera
JM, Oriol A. 2009.
Acute lymphoblastic
leukemia in adolescents and young adults. Hematol
Oncol Clin North Am.
Aster,
Jon. 2007. Sistem
Hematopoietik dan Limfoid dalam Buku Ajar Patologi Edisi 7.
Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Wong,
Donna L. 2009.
Buku Ajar Keperawatan Pediatriks
Vol
2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Ngastiyah.. 2008. Perawatan
Anak Sakit edisi 2. Jakarta: EGC
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Leukimia adalah sekumpulan penyakit yang
ditandai oleh adanya akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang
dan darah. Sel-sel abnormal ini menyebabkan timbulnya gejala
karena,kegagalan sum-sum tulang dan infiltrasi organ misalnya hati, limpa,
kelenjar getah bening,meninges, otak, kulit, atau testis. Kegagalan sum-um
tulang menimbulkan gejala berupa anemia, netropenia, trombositopenia.
Leukemia dapat dibagi menjadi 2 yaitu,
leukemia akut dan Kronis, yang masing-masing lebih lanjut dibagi menjadi
limfoid atau mieloid. Kelainan mielo proliferatif, sekelompok keadaan yang
ditandai dengan proliferasi abnormal satu atau leih sel-sel hemopoetik dalam
sumsum tulang dan pada banyak kasus juga di hepar, limpa. Sel-sel hemopoetik
yaitu, eritroid,granulosit dan monosit, serta Megakariosit. Sedangkan Kelainan
Limfo proliferatif,sekelompok keadaan yang ditandai oleh proliferasi abnormal
sistem limforetikuler (limfosit,plasmosit, histiosit). Leukemia akut biasanya
merupakan penyakit yang bersifat agresif, dengan transformasi ganas yang
menyebabkan terjadinya akumulasi progenitor hemopoietik sumsum tulang dini,disebut
sel blas. Gambaran klinis dominan penyakit-penyakit ini biasanya adalah
kegagalan sumsum tulang yang disebabkan akumulasi sel blas walaupun juga
terjadi infiltrasi jaringan. Apabila tidak diobati, penyakit ini biasanya cepat
bersifat fatal, tetapi, secara paradoks, lebih mudah diobati dibandingkan
leukemia kronik.
Leukemia akut didefinisikan sebagai adanya
lebih dari 30% sel blas dalam sumsum tulang pada saat manifestasi klinis.
Leukemia akut selanjutnya dibagi menjadi leukemia mieloidakut (AML) dan
Leukemia Limfoblastik akut (ALL) berdasarkan apakah sel blasnya terbukti sebagai
mieloblas atau limfoblas.
Leukemia Limfositik Akut (LLA) sering
terjadi pada anak-anak usia di bawah 14 tahun, ditandai dengan berkembangnya
sel darah putih yang tidak normal sehingga menyebabkan pucat, pusing, pembesaran kelenjar getah bening, demam, nyeri, dan
perdarahan sebagaimana manifestasi klinis. LLA merupakan salah satu
masalah penting pada kanker anak. Sebagai strategi untuk meningkatkan manajemen
masalah kanker anak, khususnya LLA, diperlukan gambaran epidemiologi dan hasil
pengobatan pasien. Berdasarkan hasil penelitian di RS Kanker Dharmais
(2000-2008), LLA banyak ditemukan pada anak laki-laki dengan usia 1-5tahun. LLA
L1 dengan risiko biasa adalah jenis LLA terbanyak.Dari penelitian,
44,9%pasien meninggal dan 27,5 % hidup.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
pengertian acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
2. Apa
etiologi dari acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
3. Apa
tanda dan gejala terjadinya acute lymphoblastic
leukemia (ALL?
4. Bagaimana
patofisiologi terjadinya
acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
5. Apa
saja komplikasi yang dapat ditimbulkan dari
acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
6. Bagaimana
penatalaksanaan medis dan keperawatan pada acute
lymphoblastic leukemia (ALL)?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang pada acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
8. Bagaimana asuhan keperawanan pada acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
C. TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengertian acute lymphoblastic leukemia (ALL).
2. Untuk
mengetahui etiologi dari acute lymphoblastic leukemia (ALL.
3. Untuk
mengetahui tanda dan gejala terjadinya
acute lymphoblastic leukemia (ALL).
4. Untuk
mengetahui bagaimana patofisiologi terjadinya acute lymphoblastic leukemia
(ALL.
5. Untuk
mengetahui apa saja komplikasi yang dapat ditimbulkan dari acute
lymphoblastic leukemia (ALL).
6. Untuk
mengetahui bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan pada kasus acute lymphoblastic
leukemia (ALL).
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada acute lymphoblastic leukemia (ALL)?
8. Untuk
mengetahui asuhan keperawatan pada
acute lymphoblastic leukemia (ALL).
BAB
II
LANDASAN TEORI
A. DEFINISI
ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
Leukimia
Limfoblastik Akut (ALL)
adalah proliferasi maligna/ganas limfoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan
oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik. (Smeltzer et al, 2008)
Leukemia lymphoblastic
akut ( ALL atau juga disebut leukemia limfositik akut ) adalah kanker darah dan
sumsum tulang . Kanker jenis ini biasanya semakin memburuk dengan cepat jika
tidak diobati. ALL adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-anak .
Pada anak yang sehat , sumsum tulang membuat sel-sel induk darah ( sel yang
belum matang ) yang menjadi sel-sel darah dewasa dari waktu ke waktu . Sebuah
sel induk dapat menjadi sel induk myeloid atau sel induk limfoid
(National Cancer Institute, 2014).
Leukemia adalah keganasan organ
pembuat darah, sehingga sumsum tulang didominasi oleh limfoblas yang abnormal.
Leukemia limfoblastik akut adalah keganasan yang sering ditemukan pada masa
anak-anak (25-30% dari seluruh keganasan pada anak), anak laki lebih sering
ditemukan dari pada anak perempuan, dan terbanyak pada anak usia 3-4 tahun.
Faktor risiko terjadi leukimia adalah faktor kelainan kromosom, bahan
kimia, radiasi,
faktor hormonal, dan infeksi virus (Ribera, 2009).
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) adalah suatu keganasan pada
sel-sel prekursor limfoid, yakni sel darah yang nantinya akan berdiferensiasi
menjadi limfosit T dan limfosit B. LLA ini banyak terjadi pada anak-anak yakni
75%, sedangkan sisanya terjadi pada orang dewasa. Lebih dari 80% dari kasus LLA
adalah terjadinya keganasan pada sel T, dan sisanya adalah keganasan pada sel
B. Insidennya 1 : 60.000 orang/tahun dan didominasi oleh anak-anak usia
< 15 tahun, dengan insiden tertinggi pada usia 3-5 tahun. (Landier
, 2008)
Menurut Wong (2009), Leukimia merupakan proliferasi tanpa batas
sel darah putih yang imatur dalam jaringan tubuh yang membentuk darah sehingga
menekan produksi unsur-unsur darah yang terbentuk dalam sum-sum tulang. Sel
imatur ini kemudian menginfiltrasi dan mengganti jaringan tubuh dengan sel-sel
leukimia nonfungsional, sehingga dengan tidak sengaja sel-sel imatur ini
menyerang dan menghancurkan sel darah normal/jaringan vaskuler.
B. ETIOLOGI ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
1. Genetik
a.
Keturunan
Adanya
Penyimpangan Kromosom
Insidensi
leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada
sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich,
sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome,
sindroma von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital
ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada kromosom
21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti
pada aneuploidy.
Saudara
kandung
Dilaporkan
adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik dimana kasus-kasus
leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal ini berlaku juga pada
keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi
b.
Faktor Lingkungan
Beberapa
faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom dapatan,
misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan insiden
yang meningkat pada leukemia akut, khususnya ALL ,
2. Virus
Dalam
banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus menyebabkan leukemia
pada hewan termasuk primata. Penelitian pada manusia menemukan adanya RNA
dependent DNA polimerase pada sel-sel leukemia tapi tidak ditemukan pada
sel-sel normal dan enzim ini berasal dari virus tipe C yang merupakan virus RNA
yang menyebabkan leukemia pada hewan. (Wiernik, 1985). Salah satu virus yang
terbukti dapat menyebabkan leukemia pada manusia adalah Human T-Cell
Leukemia . Jenis leukemia yang ditimbulkan adalah Acute T- Cell
Leukemia.
3. Bahaya Kimia
dan Obat-obatan
a.
Bahan Kimia
Paparan
kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan peningkatan
insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang sering terpapar benzen.
Selain benzen beberapa bahan lain dihubungkan dengan resiko tinggi dari AML,
antara lain : produk – produk minyak, cat , ethylene oxide, herbisida,
pestisida, dan ladang elektromagnetik
b. Obat-obatan
Obat-obatan
anti Imunosupresif (misal : obat karsinogenik seperti
diethylstillbestrol) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan
kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML
4. Radiasi
Hubungan
yang erat antara radiasi dan leukemia (ALL) ditemukan pada
pasien-pasien anxylosing spondilitis yang mendapat terapi
radiasi. Peningkatan resiko leukemia ditemui juga pada pasien yang
mendapat terapi radiasi misal : pembesaran thymic, para pekerja yang
terekspos radiasi dan para radiologis .
5. Leukemia
Sekunder
Leukemia
yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain
disebut Secondary Acute Leukemia ( SAL ) atau treatment related
leukemia. Termasuk diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker
payudara. Hal ini disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk
golongan imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan DNA. (Wong, 2009)
C. MANIFESTASI KLINIS ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
1.
Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2.
Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
3.
Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh
sel leukemia), biasanya terjadi pada anak
4.
Demam, banyak berkeringat pada malam hari (hipermetabolisme)
5.
Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis.
Penyebab tersering adalah gramnegatif usus, stafilokokus, streptokokus, serta jamur
6.
Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
7.
Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati
8.
Massa di mediastinum (T-ALL)
9.
Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan
intrakranial naik, muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan
neurologik fokal, dan perubahan statusmental. (Wong, 2009)
D.
PATOFISIOLOGI ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
Komponen sel darah terdiri atas
eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan leukosit atau sel darah putih (WBC)
serta trombosit atau platelet. Seluruh sel darah normal diperoleh dari sel
batang tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum tulang. Sel batang dapat
dibagi ke dalam lymphpoid dan sel batang darah (myeloid), dimana pada
kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagi sepanjang jalur tunggal
khusus. Proses ini dikenal sebagai hematopoiesis dan terjadi di dalam sumsum
tulang tengkorak, tulang belakang., panggul, tulang dada, dan pada proximal
epifisis pada tulang-tulang yang panjang.
ALL meningkat dari sel batang
lymphoid tungal dengan kematangan lemah dan pengumpulan sel-sel penyebab
kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai tingkat pengembangan
lymphoid yang berbeda dalam sumsum tulang mulai dari yang sangat mentah
hingga hampir menjadi sel normal. Derajat kementahannya merupakan
petunjuk untuk menentukan/meramalkan kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi
ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya ada leukositosis, kadang-kadang
leukopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah, demikian pula
kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya
menunjukkan sel-sel blas yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel
stem pluripoten, kemudian sel stem limfoid, pre pre-B, early B, sel B
intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid dan sel plasma. Limfosit T juga
berasal dari sel stem pluripoten, berkembang menjadi sel stem limfoid, sel
timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, dan menjadi sel limfosit T
helper dan limfosit T supresor.
Peningkatan produksi leukosit juga melibatkan
tempat-tempat ekstramedular sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar
limfe dan hepatosplenomegali. Sakit tulang juga sering dijumpai. Juga timbul
serangan pada susunan saraf pusat, yaitu sakit kepala, muntah-muntah,
“seizures” dan gangguan penglihatan.
Sel kanker
menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang berlebihan.
Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan
menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam
sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan
jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke
berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit
kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian.
Penurunan
jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah trombosit mempermudah
terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.). Adanya sel
kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan
gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi. Adanya sel
kanker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan.
(Ngastiyah,2007)
E.
KOMPLlKASI PADA ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
1.
Perdarahan
Akibat defisiensi trombosit (trombositopenia). Angka
trombosit yang rendah ditandai dengan:
a. Memar (ekimosis)
b. Petekia
(bintik perdarahan kemerahan atau keabuan sebesar ujung jarum dipermukaan
kulit) Perdarahan berat jika angka trombosit < 20.000 mm3 darah.
Demam dan infeksi dapat memperberat perdarahan.
2. Infeksi
Akibat kekurangan granulosit matur dan normal. Meningkat
sesuai derajat netropenia dan disfungsi imun.
3. Pembentukan
batu ginjal dan kolik ginjal.
Akibat penghancuran sel besar-besaran saat kemoterapi
meningkatkan kadar asam urat sehingga perlu asupan cairan yang tinggi.
4. Anemia
5. Masalah
gastrointestinal.
a. mual
b. muntah
c. anoreksia
d. diare
e. lesi
mukosa mulut
(Aster, 2007)
F.
PENATALAKSANAAN
MEDIS DAN KEPERAWATAN
Penatalaksanaan medis
1. Leukemia Limfoblastik Akut
Tujuan pengobatan adalah mencapai
kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal
bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi
perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu,
tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.
Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita
mungkin memerlukan: transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi
trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi.
Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang
selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri dari
prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan
antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel leukemik di otak,
biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan
terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah
pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan
pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel
leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel leukemik bisa
kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah zakar. Pemunculan
kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah yang sangat serius.
Penderita harus kembali menjalani kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang
menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada penderita ini. Jika sel leukemik
kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal
sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar,
biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi penyinaran.
Penatalaksanaan lain:
1. Pelaksanaan kemoterapi
Sebagian
besar pasien leukemia menjalani kemoterapi. Jenis pengobatan kanker ini
menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel leukemia. Tergantung pada jenis
leukemia, pasien bisa mendapatkan satu jenis obat atau kombinasi dari dua obat
atau lebih.
Pasien leukemia bisa mendapatkan kemoterapi dengan berbagai
cara:
a. Melalui mulut
b. Dengan suntikan langsung ke pembuluh
darah balik (atau intravena)
c. Melalui kateter (tabung kecil yang
fleksibel) yang ditempatkan di dalam pembuluh darah balik besar,
seringkali di dada bagian atas - perawat akan menyuntikkan obat ke dalam
kateter, untuk menghindari suntikan yang berulang kali. Cara ini akan
mengurangi rasa tidak nyaman dan/atau cedera pada pembuluh darah balik/kulit.
d. Dengan suntikan langsung ke cairan
cerebrospinal – jika ahli patologi menemukan sel-sel leukemia dalam cairan yang
mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang, dokter bisa memerintahkan
kemoterapi intratekal. Dokter akan menyuntikkan obat langsung ke dalam cairan
cerebrospinal. Metode ini digunakan karena obat yang diberikan melalui suntikan
IV atau diminum seringkali tidak mencapai sel-sel di otak dan sumsum tulang
belakang.
Pengobatan
umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua fase yang digunakan untuk
semua orang.
a.
Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian
besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi
kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena
obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses membunuh sel leukemia.
Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi yaitu daunorubisin,
vincristin, prednison dan asparaginase.
b. Tahap 2 (terapi
konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi
intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk
mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini
dilakukan setelah 6 bulan kemudian.
c. Tahap 3 (
profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada
SSP. Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang
lebih rendah. Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda,
kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah leukemia
memasuki otak dan sistem saraf pusat
d. Tahap 4 (pemeliharaan
jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi.
Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun. Angka harapan hidup yang membaik
dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya 95% anak dapat mencapai remisi
penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80% orang dewasa mencapai remisi
lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang, yang dicapai
dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.
2. Terapi Biologi
Orang dengan jenis penyakit leukemia tertentu menjalani
terapi biologi untuk meningkatkan daya tahan alami tubuh terhadap kanker.
Terapi ini diberikan melalui suntikan di dalam pembuluh darah balik. Bagi
pasien dengan leukemia limfositik kronis, jenis terapi biologi yang digunakan
adalah antibodi monoklonal yang akan mengikatkan diri pada sel-sel leukemia.
Terapi ini memungkinkan sistem kekebalan untuk membunuh sel-sel leukemia di
dalam darah dan sumsum tulang. Bagi penderita dengan leukemia myeloid kronis,
terapi biologi yang digunakan adalah bahan alami bernama interferon untuk
memperlambat pertumbuhan sel-sel leukemia.
3. Terapi Radiasi
Terapi Radiasi (juga disebut sebagai radioterapi)
menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Bagi
sebagian besar pasien, sebuah mesin yang besar akan mengarahkan radiasi pada
limpa, otak, atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel-sel leukemia
ini. Beberapa pasien mendapatkan radiasi yang diarahkan ke seluruh tubuh.
(radiasi seluruh tubuh biasanya diberikan sebelum transplantasi sumsum tulang.)
4. Transplantasi Sel
Induk (Stem Cell)
Beberapa pasien leukemia menjalani transplantasi sel induk
(stem cell). Transplantasi sel induk memungkinkan pasien diobati dengan dosis
obat yang tinggi, radiasi, atau keduanya. Dosis tinggi ini akan menghancurkan
sel-sel leukemia sekaligus sel-sel darah normal dalam sumsum tulang. Kemudian,
pasien akan mendapatkan sel-sel induk (stem cell) yang sehat melalui tabung
fleksibel yang dipasang di pembuluh darah balik besar di daerah dada atau
leher. Sel-sel darah yang baru akan tumbuh dari sel-sel induk (stem cell) hasil
transplantasi ini. Setelah transplantasi sel induk (stem cell), pasien biasanya
harus menginap di rumah sakit selama beberapa minggu. Tim kesehatan akan melindungi
pasien dari infeksi sampai sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi mulai
menghasilkan sel-sel darah putih dalam jumlah yang memadai.
5. Transfusi
darah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada trombositopenia
yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi trombosit dan bila
terdapat tanda‑tanda DIC dapat diberikan heparin.
6. Kortikosteroid
(prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai remisi
dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.
7. Sitostatika.
Selain sitostatika yang lama (6‑merkaptopurin atau 6‑mp, metotreksat atau MTX)
pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin
(oncovin), rubidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L‑asparaginase,
siklofosfamid atau CPA, adriamisin dan sebagainya. Umumnya sitostatika
diberikan dalam kombinasi bersama‑sama dengan prednison. Pada pemberian obat‑obatan
ini sering terdapat akibat samping berupa alopesia, stomatitis, leukopenia,
infeksi sekunder atau kandidiagis. Hendaknya lebih berhziti‑hati bila jumiah
leukosit kurang dari 2.000/mm3.
8. Infeksi
sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita diisolasi dalam kamar yang bersih
dari hama).
9. Imunoterapi,
merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah tercapai remisi dan jumlah sel
leukemia cukup rendah (105 ‑ 106), imunoterapi mulai
diberikan. Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG
atau dengan Corynae bacterium dan dimaksudkan agar terbentuk antibodi yang
dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan spesifik dikerjakan dengan
penyuntikan sel leukemia yang telah diradiasi. Dengan cara ini diharapkan akan
terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel leukemia, sehingga semua sel
patologis akan dihancurkan sehingga diharapkan penderita leukemia dapat sembuh
sempurna.
10. Cara pengobatan.
Setiap klinik mempunyai cara
tersendiri bergantung pada pengalamannya. Umumnya pengobatan ditujukan
terhadap pencegahan kambuh dan mendapatkan masa remisi yang lebih lama. Untuk
mencapai keadaan tersebut, pada prinsipnya dipakai pola dasar pengobatan
sebagai berikut:
a. Induksi
Dimaksudkan untuk mencapai remisi,
yaitu dengan pemberian berbagai obat tersebut di atas, baik secara sistemik
maupun intratekal sampai sel blast dalam sumsum tulang kurang dari 5%.
b. Konsolidasi
Yaitu agar sel yang tersisa tidak
cepat memperbanyak diri lagi.
c. Rumat (maintenance)
Untuk mempertahankan masa remisi,
sedapat‑dapatnya suatu masa remisi yang lama. Biasanya dilakukan dengan
pemberian sitostatika separuh dosis biasa.
d. Reinduksi
Dimaksudkan untuk mencegah relaps.
Reinduksi biasanya dilakukan setiap 3‑6 bulan dengan pemberian obat‑obat
seperti pada induksi selama 10‑14 hari.
e. Mencegah
terjadinya leukemia susunan saraf pusat.
Untuk hal ini diberikan MTX
intratekal pada waktu induksi untuk mencegah leukemia meningeal dan
radiasi kranial sebanyak 2.4002.500 rad. untuk mencegah leukemia meningeal dan
leukemia serebral. Radiasi ini tidak diulang pada reinduksi.
f. Pengobatan
imunologik
Diharapkan semua sel leukemia dalam
tubuh akan hilang sama sekali dan dengan demikian diharapkan penderita dapat
sembuh sempurna. ( Ribera, 2009)
G.
PEMERIKSAAN PENUNJANG ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA (ALL)
Pemeriksaan penunjang mengenai
leukemia adalah :
1.
Hitung darah lengkap menunjukkan
normositik, anemia normositik(Jumlah sel darah merah
abnormal rendah namun ukuran selnya normal)
2. Hemoglobin
: dapat kurang dari 10 g/100 ml
3. Retikulosit(Mengetahui eritrosit yang belum imatur) : jumlah
biasanya rendah
4. Jumlah
trombosit : mungkin sangat rendah (<50.000/mm)
5. SDP :
mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur (mungkin
menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.
6. PT/PTT (Partial
Thromboplastin Time)
adalah waktu yang dibutuhkan
bagi darah untuk menggumpal: Nilai rujukan/normal PTT yakni : 26 – 35
detik pada ALL memanjang
7.
LDH (Lactic Acid Dehydrogenase) adalah
enzim yang membantu memproduksi energi : mungkin meningkat
8.
Asam urat serum/urine : mungkin meningkat
9.
Muramidase serum (lisozim) :
penigkatan pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.
10. Copper serum
: meningkat
11. Zinc serum :
meningkat/ menurun
12. Biopsi
sumsum tulang : SDM abnormal biasanya lebih dari 50 % atau lebih dari SDP pada
sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan prekusor eritroid, sel
matur, dan megakariositis menurun.
13. Foto dada
dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan
(Ngastiyah,
2008)
F. ASUHAN KEPERAWATAN ALL
1. Pengkajian
keperawatan
a. Identitas
Acute
lymphoblastic leukemia sering terdapat pada anak-anak usia di bawah 15
tahun (85%) , puncaknya berada pada usia 2 – 4 tahun. Rasio lebih sering
terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
b. Riwayat
Kesehatan
1) Keluhan
Utama : Pada anak keluhan yang sering muncul tiba-tiba adalah demam,
lesu dan
malas makan atau nafsu makan berkurang, pucat (anemia) dan kecenderungan
terjadi perdarahan.
2) Riwayat
kesehatan masa lalu : Pada penderita ALL sering ditemukan riwayat
keluarga yang erpapar oleh chemical toxins (benzene dan arsen), infeksi virus
(epstein barr, HTLV-1), kelainan kromosom dan penggunaan obat-obatann seperti
phenylbutazone dan khloramphenicol, terapi radiasi maupun kemoterapi.
3) Pola
Persepsi - mempertahankan kesehatan : Tidak spesifik dan berhubungan
dengan kebiasaan buruk dalam mempertahankan kondisi kesehatan dan kebersihan
diri. Kadang ditemukan laporan tentang riwayat terpapar bahan-bahan kimia dari
orangtua.
4) Pola
Nurisi : Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anorexia,
muntah, perubahan sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan menelan,
serta pharingitis. Dari pemerksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen,
penurunan bowel sounds, pembesaran limfa, pembesaran hepar akibat invasi
sel-sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus, stomatitis,
ulserasi oal, dan adanya pmbesaran gusi (bisa menjadi indikasi terhadap
acute monolytic leukemia)
5) Pola
Eliminasi : Anak kadang mengalami diare, penegangan pada perianal,
nyeri abdomen, dan ditemukan darah segar dan faeces berwarna ter, darah dalam
urin, serta penurunan urin output. Pada inspeksi didapatkan adanya abses
perianal, serta adanya hematuria.
6) Pola
Tidur dan Istrahat : Anak memperlihatkan penurunan aktifitas dan
lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah mengalami
kelelahan.
7) Pola
Kognitif dan Persepsi : Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami
penurunan kesadaran (somnolence) , iritabilits otot dan “seizure activity”,
adanya keluhan sakit kepala, disorientasi, karena sel darah putih yang abnormal
berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.
8) Pola
Mekanisme Koping dan Stress : Anak berada dalam kondisi yang lemah dengan
pertahan tubuh yang sangat jelek. Dalam pengkajian dapt ditemukan adanya
depresi, withdrawal, cemas, takut, marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan
peerubahan suasana hati, dan bingung.
9) Pola
Seksual : Pada pasien anak-anak pola seksual belum dapat dikaji
10) Pola
Hubungan Peran : Pasien anak-anak biasanya merasa kehilangan
kesempatan bermain dan berkumpul bersama teman-teman serta belajar.
11) Pola
Keyakinan dan Nilai : Anak pra sekolah mengalami kelemahan umum dan
ketidakberdayaan melakukan ibadah.
12) Pengkajian
tumbuh kembang anak.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.
Resiko infeksi
berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
2. Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan output berlebih yang ditandai dengan mual
dan muntah
3. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output berlebih yang ditandai dengan anoreksia,
malaise, mual dan muntah
4.
Nyeri berhubungan dengan
efek fisiologis dari leukemia
5. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
|
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
TUJUAN (NOC)
|
INTERVENSI (NIC)
|
|
1.
|
Resiko infeksi
Definisi : Peningkatan resiko
masuknya organisme patogen
Faktor-faktor resiko :
- Prosedur
Infasif
- Ketidakcukupan
pengetahuan untuk menghindari paparan patogen
- Trauma
- Kerusakan
jaringan dan peningkatan paparan lingkungan
- Agen
farmasi (imunosupresan)
- Malnutrisi
- Peningkatan
paparan lingkungan patogen
- Imonusupresi
- Ketidakadekuatan
imum buatan
- Tidak
adekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, Leukopenia, penekanan respon
inflamasi)
- Tidak
adekuat pertahanan tubuh primer (kulit tidak utuh, trauma jaringan, penurunan
kerja silia, cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, perubahan
peristaltik)
|
NOC :
v Immune Status
v Knowledge :
Infection control
v Risk control
Kriteria Hasil :
v menurunkan tanda dan
gejala infeksi
v Menunjukkan
kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
v Menunjukkan perilaku
hidup sehat
|
NIC :
Infection Control (Kontrol
infeksi)
· Bersihkan
lingkungan setelah dipakai pasien lain
· Pertahankan
teknik isolasi bila diperlukan
· Batasi
pengunjung bila perlu
· Instruksikan
pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
meninggalkan pasien
· Gunakan
sabun antimikrobia untuk cuci tangan
· Cuci
tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawtan
· Pertahankan
lingkungan aseptik selama pemasangan alat
· Gunakan
kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
· Tingktkan
intake nutrisi
· Berikan
terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (proteksi
terhadap infeksi)
· Monitor
tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
· Monitor
hitung granulosit, WBC
· Monitor
kerentanan terhadap infeksi
· Saring
pengunjung terhadap penyakit menular
· Partahankan
teknik aseptik
pada pasien yang beresiko
- Inspeksi
kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas
· Dorong
masukkan nutrisi yang cukup
· Dorong
masukan cairan
· Dorong
istirahat
· Instruksikan
pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
· Ajarkan
pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
· Ajarkan
cara menghindari infeksi
· Laporkan
kecurigaan infeksi
|
|
2.
|
Resiko tinggi kekurangan volume
cairan berhubungan dengan output
berlebih yang ditandai dengan mual dan muntah
Definisi : Penurunan cairan
intravaskuler, interstisial, dan/atau intrasellular. Ini mengarah ke
dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium
Batasan Karakteristik :
- Kelemahan
- dehidrasi
- Penurunan
turgor kulit
- Membran
mukosa/kulit kering
- Peningkatan
denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan nadi
- Temperatur
tubuh meningkat
- Hematokrit
meninggi
Faktor-faktor yang berhubungan:
- Kehilangan
volume cairan secara aktif
- Kegagalan
mekanisme pengaturan
|
NOC:
v Fluid balance
v Hydration
v Nutritional Status :
Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
v Mempertahankan urine
output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
v Tekanan darah, nadi,
suhu tubuh dalam batas normal
v Tidak ada tanda
tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab
|
NIC :
Fluid management
· Pertahankan
catatan intake dan output yang akurat
· Monitor
status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik ), jika diperlukan
· Monitor
vital sign
· Monitor
masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
· Kolaborasikan
pemberian cairan IV
· Monitor
status nutrisi
· Berikan
cairan IV · Dorong
masukan oral
· Dorong
keluarga untuk membantu pasien makan
· Tawarkan
snack ( jus buah, buah segar )
· Kolaborasi
dokter jika tanda cairan berlebih muncul atau memburuk
· Atur
kemungkinan tranfusi
· Persiapan
untuk tranfusi
|
|
3.
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh b/d output berlebih yang ditandai dengan anoreksia,
malaise, mual dan muntah
Definisi : Intake nutrisi tidak
cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.
Batasan karakteristik :
- Berat
badan 20 % atau lebih di bawah ideal
- Dilaporkan
adanya intake makanan yang kurang dari RDA (Recomended Daily Allowance)
- Membran
mukosa dan konjungtiva pucat
- Dilaporkan
atau fakta adanya kekurangan nafsu
makan
- Perasaan
ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
- Keengganan
untuk makan
- Suara usus
hiperaktif
Faktor-faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan atau
mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor
biologis, psikologis atau ekonomi.
|
NOC :
v Nutritional Status :
food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
v Adanya peningkatan berat
badan sesuai dengan tujuan
v Mampu
mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
v Tidak ada tanda
tanda malnutrisi
v Menurunkan resiko penurunan
berat badan yang berarti
|
NIC :
Nutrition Management
§ Kaji adanya alergi
makanan
§ Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
§ Anjurkan pasien
untuk meningkatkan intake Fe
§ Anjurkan pasien
untuk meningkatkan protein dan vitamin C
§ Berikan substansi
gula
§ Yakinkan diet yang
dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
§ Monitor jumlah
nutrisi dan kandungan kalori
§ Berikan informasi
tentang kebutuhan nutrisi
§ Kaji kemampuan
pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
§ BB pasien dalam batas
normal
§ Monitor adanya
penurunan berat badan
§ Monitor tipe dan
jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
§ Monitor lingkungan
selama makan
§ Jadwalkan
pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
§ Monitor kulit kering
dan perubahan pigmentasi
§ Monitor turgor kulit
§ Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan mudah patah
§ Monitor mual dan
muntah
§ Monitor kadar
albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
§ Monitor makanan
kesukaan
§ Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
§ Monitor pucat,
kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
|
|
4.
|
Nyeri berhubungan dengan efek
fisiologis dari leukemia
Definisi :
Sensori yang tidak menyenangkan
dan pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan
jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri
Internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai
berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan
durasi kurang dari 6 bulan.
Batasan karakteristik :
- Laporan
secara verbal atau non verbal
- Fakta
dari observasi
- Tingkah
laku berhati-hati
- Gangguan
tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
- Terfokus
pada diri sendiri
- Respon
autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi
dan dilatasi pupil)
- Tingkah
laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel,
nafas panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan
dalam nafsu makan dan minum
Faktor yang berhubungan :
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis)
|
NOC :
v Pain Level,
v Pain control,
v Comfort level
Kriteria Hasil :
v Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri, mencari bantuan)
v Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
v Mampu mengenali
nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
v Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri berkurang
v Tanda vital dalam
rentang normal
|
NIC :
Pain Management
§ Lakukan pengkajian
nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
§ Observasi reaksi
nonverbal dari ketidaknyamanan
§ Gunakan teknik
komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
§ Bantu pasien dan
keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
§ Kontrol lingkungan
yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
§ Kurangi faktor
presipitasi nyeri
§ Pilih dan lakukan
penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
§ Berikan analgetik
untuk mengurangi nyeri
§ Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
§ Tingkatkan istirahat
§ Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
Analgesic Administration
§ Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
§ Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
§ Cek riwayat alergi
§ Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama kali
§ Berikan analgesik
tepat waktu terutama saat nyeri hebat
§ Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
|
|
5.
|
Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan akibat anemia
Definisi : Ketidakcukupan energu
secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan
aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.
Batasan karakteristik :
a. melaporkan
secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
b. Respon
abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
c. Perubahan
EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
d. Adanya
dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.
Faktor factor yang berhubungan :
· Tirah
Baring atau imobilisasi
· Kelemahan
menyeluruh
· Ketidakseimbangan
antara suplei oksigen dengan kebutuhan
· Gaya
hidup yang dipertahankan.
|
NOC :
v Energy conservation
v Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
v Berpartisipasi dalam aktivitas
fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR.
v Mampu melakukan aktivitas
sehari hari (ADLs) secara mandiri
|
NIC :
Energy Management
v Observasi adanya
pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
v Dorong anak untuk
mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
v Kaji adanya factor
yang menyebabkan kelelahan
v Monitor
nutrisi dan sumber energi tangadekuat
v Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
v Monitor respon
kardivaskuler terhadap aktivitas
v Monitor pola tidur
dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
v Kolaborasikan dengan
Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.
v Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
v Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
v Bantu untuk
mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
v Bantu untuk
mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
v Bantu untu
mengidentifikasi aktivitas yang disukai
v Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan diwaktu luang
v Bantu
pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
v Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif beraktivitas
v Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi diri dan penguatan
v Monitor respon
fisik, emosi,
social dan spiritual
|
DAFTAR
PUSTAKA
Ribera
JM, Oriol A. 2009.
Acute lymphoblastic
leukemia in adolescents and young adults. Hematol
Oncol Clin North Am.
Aster,
Jon. 2007. Sistem
Hematopoietik dan Limfoid dalam Buku Ajar Patologi Edisi 7.
Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Wong,
Donna L. 2009.
Buku Ajar Keperawatan Pediatriks
Vol
2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Ngastiyah.. 2008. Perawatan
Anak Sakit edisi 2. Jakarta: EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar