TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM
TECHNIQUES (SEFT)
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Holistik
Dosen
Pebimbing: Athanasia Budi Astuti, Skp., MN
Disusun Oleh kelompok 6:
Azka Ilham Muzaki (J210150081)
Elma Elvinawati
(J210150082)
Mei
Pamilu Wulandaru (J210150092)
Nora Rastika Aurita (J210150093)
Imelda Widyatama (J210150115)
PROGRAM
STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Modernisasi membuat situasi kehidupan manusia semakin
kompleks.Persaingan yang semakin tajam telah mendorong timbulnya berbagai
bentuk kekerasan yang dilakukan manusia, baik orang dewasa, remaja maupun
anak-anak.Tindak kekerasan terjadi di seluruh dunia dan di seluruh segmen
masyarakat.Berbagai tindak agresi seperti perang antar geng, perampokan,
pembunuhan dan sebagainya, telah terjadi di mana mana dan hampir setiap hari,
karena rasa marah, kecewa, dan emosi negatif yang keluar dari tubuh.
Perilaku agresif dalam kehidupan masyarakat menunjukkan
suatu gejala yang meningkat akhir-akhir ini. Hal ini dapat kita ketahui pada
pemberitaan di media massa tentang kejahatan kriminal yang terjadi seperti
tindakan kekerasan, penyerangan, penganiayaan, kerusuhan, perkelahian, bahkan
pembunuhan seakan menjadi fenomena yang sudah biasa karena seringnya terjadi.
Melihat kompleksnya permasalahan agresivitas seperti yang
telah diuraikan di atas, perlu kiranya usaha sungguh sungguh untuk mengatasinya
ada suatu metode yang dapat digunakan untuk menurunkan agresivitas, yaitu salah
satunya menggunakan terapi.
Terapi EFT (Emotional Freedom Technique)atau SEFT (Spiritual
Emotional Freedom Technique)dapat digunakan sebagai salah satu teknik terapi
untuk mengatasi masalah emosional dan fisik, yaitu dengan melakukan totok
ringan (tapping) pada titik syaraf atau meridian tubuh. Spiritual dalam
EFT/SEFT adalah doa yang diafirmasikan oleh klien pada saat akan dimulai hingga
sesi terapi berakhir. Dan Terapi EFT/SEFT bersifat universal, artinya untuk
semua kalangan tanpa membeda-bedakan latar belakang keyakinan klien.
B. RUMUSAN
MASALAH
a.
Apa itu terapi seft?
b.
Bagaimana dasar teori terapi seft?
c.
Bagaimana prosedur terapi seft?
d.
Bagaimana manfaat terapi seft?
C. TUJUAN
a.
Untuk mengetahui definisi Seft
b.
Untuk mengetahui dasar teori terapi seft
c.
Untuk mengetahui prosedur terapi seft
d.
Untuk mengetahui manfaat terapi seft
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A. DEFENISI
SEFT
Spiritual Emotional
Freedom Techniques adalah serangkaian metode yang berorientasi pada sistem
energi tubuh, untuk melepaskan individu dari gangguan emosional dan fisik.
Emosi negatif yang dialami oleh individu umumnya diawali dengan representasi
internal yang buruk. Kondisi ini berlanjut oleh gangguan pada sistem energi
tubuh.
B. DASAR
TEORI SEFT
Menurut teori energy psychology,
gangguan psikologis atau sakit fisik terjadi jika terdapat sejumlah hambatan
energi negatif pada pembuluh meridian tempat mengalirnya chi. Oleh karena itu, jika ada seseorang mengalami gangguan
psikologis seperti gangguan kecemasan, fobia ataupun depresi, berarti telah
terjadi ketidakseimbangan berupa adanya hambatan berupa energi negatif pada
sistem jalur meridiannya (Feinsten & Ashland, 2009)
Spiritual merupakan komponen yang membedakan antara SEFT
dan EFT. Penambahan unsur spiritual dalam SEFT berupa doa kepada Tuhan.
Zainuddin (2009) mengungkapkan penambahan unsur spiritual berupa doa
menghasilkan amplifiying effect atau
efek pelipatgandaan pada EFT.
Doa mempunyai dampak yang positif terhadap kondisi
psikologis. Wachholtz & Sambaamorthi (2011) melakukan penelitian pada
30.080 partisipan pada tahun 2002 dan 22.306 orang pada tahun 2007 yang
menderita sakit pada sebuah rumah sakit. Mereka membagi semua partisipan
menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok yang tidak pernah berdoa, kelompok yang telah
berdoa selama 12 bulan dan kelompok yang sudah tidak pernah berdoa semenjak 12
bulan. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa pada kelompok yang berdoa sama
sekali tidak mengalami depresi dan bahkan menderita rasa nyeri tubuh yang
rendah dibandingkan kelompok yang tidak berdoa.
Zainuddin (2009) mengungkapkan bahwa dalam SEFT terdapat
pelaksanaan dari logotherapy. Hal ini
dapat dilihat pada teknik SEFT pada tahap set up, tune in maupun tapping yang
mengajarkan individu untuk dapat ikhlas dan pasrah kepada Tuhan dalam
menghadapi setiap persoalan yang dihadapinya. Dengan demikian SEFT memberikan
sejumlah pemaknaan yang bersifat spiritualitas pada penggunanya terhadap
persoalan yang dihadapinya. Pemaknaan spiritualitas seperti:
1. Tuhan itu ada, Tuhan yang mengatur alur
kehidupan saya.
2. Jika Tuhan memberikan kesulitan, disaat
bersamaan Tuhan juga memberikan kemudahan.
3. Setiap kesulitan yang hadir adalah
bagian dari keputusuan Tuhan yang pastinya baik untuk saya saat ini.
4. Tuhan dan manusia mempunyai tugas yang berbeda.
Tugas saya hanyalah berusaha, sedangkan tugas Tuhan adalah menentukan hasil.
Oleh karena itu, dengan menjalankan SEFT individu dapat
terbebas dari persoalan psikologis yang dihadapinya maupun mencapai kebahagiaan
atau hidup yang bermakna.
Lewis & Barnes (2008) melakukan penelitian terhadap
2306 sampel untuk melihat korelasi antara frekuensi berdoa dengan psychology Lewis & Barnes membagi kategori psychology
health menjadi 4 aspek yaitu extraversion, psychoticsm, neurotocism, dan lie scale. Lewis & Barnes
menemukan bahwa seseorang yang sering berdoa mempunyai skor extraversion,
psychoticsm, neurotocism, dan lie scale yang lebih rendah ketimbang individu yang berdoa
kadang-kadang atau tidak sama sekali. Dengan kata lain, individu yang sering
berdoa akan mempunyai kesehatan mental yang baik.
Feinstein & Ashland (2012) mengatakan untuk mengatasi
gangguan tersebut dapat dilakukan dengan menstimulasi dengan menyentuh,
menekan, ataupun dengan ketukan ringan pada titik-titik acupoint yang berhubungan dengan persoalan yang dialami. Dengan
melakukan stimulasi pada titik acupoint maka
secara otomatis akan melenyapkan atau mengeluarkan energi negatif dari sistem
energi individu.
Pada SEFT digunakan stimulasi berupa ketukan ringan atau tapping pada titik acupoint. Pada saat tapping terjadi peningkatan proses perjalanan sinyal-sinyal
neurotransmitter yang menurunkan regulasi hipotalamic-pitutiary-adrenal Axis (HPA axis) sehingga mengurangi produksi hormon stres
yaitu kortisol (Church, 2009).
Gate Control
Theory (Teori Kontrol
Gerbang): Teori ini di jelaskan oleh Melzack dan Wall pada tahun 1965
untuk menjelaskan mengapa pikiran dan emosi mempengaruhi persepsi nyeri. Teori
nyeri ini membahas mengenai faktor pisikologi yang berperan dalam mempengaruhi
presepsi nyeri.
Teori Gate Control menyatakan adanya mekanisme seperti gerbang di
area dorsal horn pada
spinal cord. Serabut saraf kecil (reseptor nyeri)’Small Nerve Fibers’ dan serabut saraf besar (reseptor
normal) ’Large Nerve Fibers’
bermuara di sel proyeksi “Projection
Cell” yang membentuk jalur spinothalamic menuju pusat saraf tertinggi
(otak), dan sinyal dapat diperlemah atau diperkuat oleh inhibitory interneurons.
Mekanismenya sebagai berikut:
1. Ketika tidak ada rangsangan nyeri, inhibitory
neuron mencegah projection neuron (Projection cell)
untuk mengirim sinyal ke otak. Sehingga, kita dapat katakan gerbang tertutup
atau tidak ada presepsi nyeri.
2. Ketika rangsangan normal somatosensori
(sentuhan, perubahan suhu, dll) terjadi. Rangsangan akan di hantarkan melalui serabut
saraf besar (hanya serabut saraf besar). Meyebabkan inhibitory
neuron dan projection neuron aktif. Tetapi inhibitory
neuron mencegah projection neuron untuk mengirim sinyal
terkirim ke otak. Sehingga, gerbang masih tertutup dan tidak ada presepsi nyeri.
3. Ketika nociception (rangsangan
nyeri) muncul. Rangsangan akan dihantarkan melaui serabut saraf kecil. Dan ini
menyebabkan inhibitory neuron menjadi tidak aktif, dan
projection neuron mengirimkan sinyal ke otak. Sehingga, gerbang terbuka dan
presepsi nyeri muncul.
Pada saat stimulasi nyeri terjadi (membuat “gerbang terbuka”), stimulasi pada serabut saraf besar dapat menghambat nyeri karena menyebabkan “gerbang tertutup”.
Sinyal dari intervensi keperawatan SEFT
Islami diatas ditangkap oleh indra
secara visual, audiotory dan tactil.
Sinyal visual ditangkap oleh reseptor nervus opticus (N.II) pada mata, auditory ditangkap oleh N.
vestibulocochlearis (N.VIII) pada telinga, dan sinyal tactil ditangkap oleh “corpus
pacini” pada subkutan/otot/fascia (Potter & Perry, 2005; Dharmojono,
2009). Sinyal tersebut berjalan melewati medulla spinalis dan medulla oblongata
menuju thalamus, kemudian melewati sinaps tunggal menuju ke amigdala. Sinyal
kedua dari thalamus disalurkan ke neokorteks otak untuk berfikir, dianalisis
dan kemudian ditentukan makna dan respon emosional. Percabangan ini
memungkinkan amigdala mulai memberi respons sebelum neokorteks merespon dan
mengolah informasi, sebelum otak sepenuhnya memahami dan pada akhirnya memulai
respons yang telah diolah lebih dahulu. Inilah yang menyebabkan individu lebih
menonjol emosionalnya daripada rasionalnya (Sholeh, 2006).
Kontribusi iman terhadap korteks amigdala
pada intervensi keperawatan SEFT Islami terjadi ketika melakukan ucapan doa
kepasrahan, sugesti diri dan self
hypnosis yang memberikan sinyal berupa muatan nilai yang dapat dijadikan
pijakan bagi neokorteks dalam mengendalikan amigdala-hipokampus. Ini dilakukan
untuk melawan distorsi kognitif yang dimiliki penderita sehingga terbentuklah
keikhlasan dan amigdala memberikan respons terhadap rangsangan (stimulus)
dengan respon normal, persepsi yang positif, bukan respons darurat dan negatif
(Sholeh, 2006).
Hipokampus
dalam hal ini juga berperan dalam pembentukan persepsi positif. Hipokampus
adalah tempat bagi ingatan dan penyimpanan
berbagai pesan, termasuk pesan keagamaan, seperti pesan harus sabar bila
tertimpa musibah/sakit, segala sesuatu itu tidak lepas dari kehendak Allah Swt,
dan kehendak Allah Swt adalah keputusan terbaik. Maka, hipokampus sesuai dengan
fungsinya, memberikan makna musibah sakit tersebut dengan makna yang normal dan
positif. Jika hipokampus tidak pernah menyimpan pesan keagamaan, bisa jadi
rangsangan tersebut oleh hipokampus diberi makna cemas, depresi atau stres dan
sejumlah respons darurat lainnya (Sholeh, 2006).
Sementara
itu, neokorteks prefrontal kiri mengendalikan prefrontal kanan, dimana perasaan
cemas, depresi dan agresif bersarang, agar menerima rangsangan penyakit
hipertensi itu dengan analisis respons kesabaran, keikhlasan, persepsi positif
dan normal. Jika kedua neokorteks kiri-kanan sepakat bahwa rangsangan itu
diterima dengan suatu keikhlasan, kepastian keputusan itu dikirim ke hipokampus
untuk dicocokkan apakah pesan keikhlasan dalam menerima cobaan penyakit
hipertensi itu pernah tersimpan dalam memori hipokampus. Jika ragu-ragu,
rangsangan itu berpindah-pindah dari amigdala, hipokampus dan korteks sampai
akhirnya mencapai kepastian (Sholeh, 2006).
C.
CARA MELAKUKAN TERAPI SEFT
1. The Set-Up
“The Set-Up” bertujuan untuk memastikan agar aliran energi tubuh
kita terarahkan dengan tepat. Langkah ini kita lakukan untuk menetralisir
“Psychological reversal” atau “perlawanan psikologis” (biasanya berupa pikiran
negatif spontan atau keyakinan bahwa sadar negatif).
Contoh Psychological Reversal ini diantaranya:
Contoh Psychological Reversal ini diantaranya:
· Saya tidak bisa mencapai impian saya
· Saya tidak dapat bicara di depan publik dengan percaya diri
· Saya adalah korban pelecehan seksual yang malang
· Saya tidak bisa menghindari rasa bersalah yang terus menghantui hidup saya
· Saya marah dan kecewa pada istri/suami saya karena dia tidak seperti yang saya harapkan
· Saya kesal dengan anak-anak, karena mereka susah diatur
· Saya tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan rokok
· Saya tidak termotivasi untuk belajar, saya pemalas
· Saya tidak mungkin bisa memenangkan pertandingan ini
· Saya menyerah, saya tidak mampu melakukannya.
· Saya… Saya… Saya…
Jika keyakinan atau pikiran negatif seperti contoh di atas
terjadi, maka berdo’a dengan khusyu’, ikhlas dan pasrah: “Yaa Allah… meskipun
saya _______ (keluhan anda), saya ikhlas, saya pasrah pada-Mu sepenuhnya”
Inilah obatnya: kata-kata di atas disebut The Set-Up Words,
yaitu beberapa kata yang perlu anda ucapkan dengan penuh perasaan untuk menetralisir
Psychological reversal (keyakinan dan pikiran negatif). Dalam bahasa religius,
the set-up words adalah “doa kepasrahan” kita pada Allah swt. Bahwa apapun
masalah dan rasa sakit yang kita alami saat ini, kita ikhlas menerimanya dan
kita pasrahkan kesembuhan nya pada Allah swt.
“The Set-Up” sebenarnya terdiri dari 2 aktivitas, yang pertama
adalah mengucapkan kalimat seperti di atas dengan penuh rasa khusyu’, ikhlas
dan pasrah sebanyak 3 kali. Dan yang kedua adalah sambil mengucapkan dengan
penuh perasaan, kita menekan dada kita , tepatnya di bagian “Sore Spot” (titik
nyeri = daerah di sekitar dada atas yang jika ditekan terasa agak sakit) atau
mengetuk dengan dua ujung jari di bagian “Karate Chop”. (lihat gb. 1 dan gb.2
di halaman 36)
Setelah menekan titik nyeri atau mengetuk karate chop sambil
mengucapkan kalimat Set-Up seperti di atas, kita melanjutkan dengan langkah
kedua, “the Tune-In”.
2. The Tune-In
Untuk masalah fisik, kita melakukan tune-in dengan cara
merasakan rasa sakit yang kita alami, lalu mengarahkan pikiran kita ke tempat
rasa sakit dan sambil terus melakukan 2 hal tersebut, hati dan mulut kita
mengatakan, “saya ikhlas, saya pasrah… yaa Allah..”
Untuk masalah emosi, kita melakukan “Tune-In” dengan cara
memikirkan sesuatu atau peristiwa spesifik tertentu yang dapat membangkitkan
emosi negatif yang ingin kita hilangkan. Ketika terjadi reaksi negatif (marah,
sedih, takut, dsb.) hati dan mulut kita mengatakan, Yaa Allah.. saya ikhlas….
Saya pasrah…
Bersamaan dengan Tune-In ini kita melakukan langkah ke 3
(Tapping). Pada proses inilah (Tune-In yang dibarengi tapping) kita
menetralisir emosi negatif atau rasa sakit fisik.
3. The Tapping
Tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada
titik-titik tertentu di tubuh kita sambil terus Tune-In. titik-titik ini adalah
titik-titik kunci dari “The Major Energy Meridians”, yang jika kita ketuk
beberapa kali akan berdampak pada ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa
sakit yang kita rasakan. Karena aliran energi tubuh berjalan dengan normal dan seimbang
kembali.
Lokasi Titik Tapping
Versi Pendek :
1. CROWN
POINT (Cr), dalam akupuntur disebut dengan titik Baihul atau disebut
Hundred Meeting Point, berada dalam Governing Vesel meridian, Fungsi utamanya
adalah: Untuk mengatasi sakit kepala, vertigo, Tinitus, Opstruksi hidung,
Aphasia karena apoleksia, Koma, Gangguan jiwa, Prolakpus rectum dan uterus
2. EYE
BROW POINT (EB), dalam akupuntur disebut titik Cuanzhu, atau disebut
dengan Gathered Bamboo point,berada dalam bladder meridian fungsi utamanya
adalah : Untuk mengatasi sakit kepala, penglihatan kabur, nyeri di daerah
supraorbital, lakriminasi, kemerahan, pembengkakan, dan nyeri mata, kejang pada
kelopak mata, spasme otot mata (kedutan), juga untuk manic depressive
3. SIDE
OF EYE POINT (SE), dalam akupuntur disebut titik Tongzillo, berada dalam
gallbladder meridian, fungsi utamanya adalah : Untuk mengatasi sakit kepala,
kemerahan, dan nyeri mata, gangguan penglihatan, lakrimasi, deviasi mata dan
mulut.
4. UNDER
EYE POINT (UE), dalam akupuntur disebut dengan titik Chengi, bearda dalam
stomach meridian, fungsi utamanya adalah : untuk mengatasi kemerahan dan nyeri
pada mata,myopia, paralysis fasalis, kejang otot mata, konjungtivis, rabun
senja, mengatasi masuk angina, bellpalsy, dan bergetarnya kelopak mata.
5. UNDER
NOSE POINT (UN), dalam akupuntur disebut titik Shuigou, disebut juga
dengan Reng Cung, atau selokan airmata atau pusat manusia, titik ini berada
dalam Governing vessel meridian, fungsi utamanya: untuk mengatasi shock,
kolaps, sengatan matahari,koma, schizophrenia, mania depresive disolder,
meningkatkan kecerdasan dan kejang pada anak
6. CHIN
POINT (Ch), dalam akupuntur disebut titik Chengjiang, titik ini merupakan
pertemuan antara meridian ren dan meridian lambung, titik ini berada dalam
conceptions vessel meridian, fungsi utamanya : untuk mengatasi Paralis
fasialis, Pembengkaan gusi, sakit gigi, nyeri saat menstruasi, gangguan
andrologi pria, gangguan pencernaan, dan salivasi berlebihan
7. COLLAR
BONE POINT (CB), dalam akupuntur dengan titik Qishe, disebut juga rumah
Qi, yang artinya pertemuan dari aliran energi, titik ini berada pada stomach
meridian, fungsi utamanya adalah: untuk mengatasi sakit tenggorokan, batuk,
cegukan, ashma, scrofula, nyeri dada dan gangguan manic depressive.
8. UNDER
ARM POINT (UA), dalam akupuntur disebut dengan titik dabao, disebut juga
titik sampul besar yang artinya pertemuan dari meridian limpa, titik ini berada
dalam spleen meridian, fungsi utamanya : untuk mengatasi nyeri seluruh tubuh,
kelelahan kronis, dan nyeri di daerah dada
9. BELLOW
NIPPLE POINT (BN), dalam akupuntur disebut dengan titik Rugen, disebut
juga dengan titik akar payudara, titik ini berada dalam stomach meridian,
fungsi utamanya : untuk mengatasi batuk, atsma, cegukan , nyeri dada, mastitis
dan insufesiensi laktasi
Lokasi Titik Tapping
Versi Lengkap :
1. INSIDE
HANDS POINT( IH ), dalam akupuntur, ada 7 titik yang disentuh dalam inside
hands ini, 3 berada dalam pericardium meridian dan 4 sisanya berada dalam heart
meridian. 3 titik yang berada dalam pericardium meridian yaitu titik jiansi,
Nelguan dan Daling, fungsi utama dari ketiga titik ini : untuk mengatasi
palpilasi, muntah, hipertensi, hysteria,kejang ada anak, nyeri kardiak,
palpitasi, sesak dada, nyeri di daerah hipokondrium, sakit lambung , mual,
cegukan , gangguan mental, epilepsy, insomnia, penyakit panas, nyeri, serta
kontraktur pada siku dan lengan,. Sedang 4 titik yang berada dalam Heart
meridian, yaitu Shemen, Yinxi, Tongli, Lingdao, fungsi utamanya : untuk
mengatasi nyeri kardiak, nyeri spasmodic dari siku dan lengan, kehilangan suara
mendadak, palpitasi, sakit tenggorokan, hysteria, amnesia, insomnia, mania,
epilepsy, demensia.
2. OUTSIDE
HAND POINT ( OH ), dalam akupuntur ada 5 titik yang disentuh outside hand,
yaitu titik Sidu, Sanyangluo, Zhigou, Huzong, Walguan, dan Yangchi, 5 titik ini
berada di triple energizer meridian, fungsi utamanya : untuk mengatasi
ketulian, sakit gigi, migraine, suara serak mendadak, nyeri, epilepsy, penyakit
panas, keseleo, dan mengurangi rasa haus pada penderita diabetes.
3. THUMB
POINT (Th), dalam akupuntur titik ini merupakan titik istimewa sebagai
Jing atau tempat berkumpulnya energi vital manusia, disebut dengan titik Shaoshang,
titik ini berada dalam lung meridian, fungsi utamanya : untuk membersihkan
paru-paru, melancarkan tenggorokan, membangunkan pingsan, panas, manic
depressive disolder dan batuk.
4. MIDDLE
FINGER POINT (MF), dalam akupuntur disebut titik Zhongchong, titik ini
berada dalam picardium meridian, fungsi utamanya: untuk mengatasi sakit
jantung, dada sumpek, pingsan atau aphasia, kaku lidah, panas, heat
stroke,kejang, rasa panas pada telapak tangan, tremor,dan manic depressive.
5. INDEX
FINGER POINT ( IF ), dalam akupuntur disebut titik Shanyang, titik ini
berada dalam large intestine meridian, fungsi utamanya: mengurangi sakit gigi,
penyakit panas, sakit tenggorokan, hipertensi, dan kehilangan kesadaran
6. RING
FINGER POINT( RF ), dalam akupuntur disebut titik Guanchong, titik ini
berada dalam triple energizer meridian, fungsi utamanya: untuk mengatasi nyeri
kepala, kemerahan pada mata, sakit tenggorokan, kekakuan lidah, demam dan
gangguan pencernaan pada anak.
7. LITLE
FINGER POINT, dalam akupuntur disebut titik Shaochong, titik ini berada
dalam heart meridian,fungsi utama dari titik ini adalah palpilasi, nyeri dada
dan daerah hipokondrium, mania,kehilangan kesadaran dan penyakit panas
8. KARATE
CHOP POINT ( KC ), dalam akupuntur titik ini disebut dengan titik Houxi,
titik ini berada dalam small intestine meridian, fungsi utamanya : mengurangi
nyeri dan kekakuan leher, sakit kepala dan neuralgia, intercostalis, tinnitus,
dan sakit tenggorokan
9. GAMUT
SPOT POINT ( GS), dalam akupuntur disebut titik Yemen, titik ini berada
dalam triple energizer meridian. Gamut Spot ini merupakan titik yang bersifat
Yin, fungsi utamanya: mengurangi nyeri di kepala, penglihatan kabur, mata
merah, ketulian mendadak, sakit tenggorokan dan nyeri lengan.
D. FAKTOR
KEBERHASILAN SEFT
Salah satu faktor utama yang
menentukan apakah suatu rangsangan atau kondisi yang tidak menyenangkan dapat
menimbulkan stress atau tidak, sangat dipengaruhi oleh beberapa kemampuan
individu dalam mengendalikan kondisi tersebut. Jika seseorang dapat menghayati
makna ucapan doa yang terdapat pada set-up,
tune-in dan tapping, orang
tersebut dimungkinkan dapat mengendalikan kondisi yang dihadapi, terutama
menghadapi cobaan penyakit hipertensi dengan keikhlasan. Sebaliknya, bila
seseorang mengucap doa hanya di bibir saja, sebatas pada tataran ritualitas
belaka bukan penghayatan spiritual, maka orang tersebut tidak akan mencapai
keikhlasan dan persepsi yang positif sehingga tidak mampu mengendalikan kondisi
yang menimbulkan stress (Sholeh, 2006).
Secara empiris, terdapat lima
prinsip keberhasilan penerapan keperawatan SEFT Islami, antara lain yakin
terhadap kekuasaan Allah Swt; khusyuk (hati dan pikiran kita hadir saat
berdoa); ikhlas atau ridho menerima rasa
sakit kita (baik fisik maupun emosi) dengan sepenuh hati dan tanpa
mengeluh/complain; pasrah (menyerahkan apa yang terjadi nanti kepada Allah
Swt); dan syukur (meskipun tertimpa musibah/cobaan tapi masih banyak hal lain
yang patut disyukuri). Kelima hal tersebut apabila tidak/kurang diterapkan
dalam keperawatan SEFT Islami, akan menjadi hambatan spiritual tersendiri dan
hasil yang diharapkan menjadi kurang efektif (Zainuddin, 2005).
E. MANFAAT
TERAPI SEFT
Mengurangi
nyeri, menurunkan tekanan darah, Stress, Phobia dan ketakutan, kesedihan yang
mendalam & berbagai kasus penyakit (diabetes, darah tinggi, asam urat,
sakit kepala, migrain)
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAH
KESIMPULAN
Spiritual Emotional
Freedom Techniques adalah serangkaian metode yang berorientasi pada sistem
energi tubuh, untuk melepaskan individu dari gangguan emosional dan fisik.
Emosi negatif yang dialami oleh individu umumnya diawali dengan representasi
internal yang buruk. Kondisi ini berlanjut oleh gangguan pada sistem energi
tubuh.
Cara
melakukannya dengan The Set-Up, The tune-in dan The tapping pada 18 titik.
Manfaatnya
antara lain: Trauma & Shock, PTSD (post-traumatic stress disorder), Stress,
Depresi, Pelecehan Sexsual, Cemas & Marah, Phobia dan ketakutan,
Relationship problems, kesedihan yang mendalam & berbagai kasus penyakit
(diabetes, darah tinggi, asam urat, sakit kepala, migrain)
SARAN
Terapi
SEFT ini sangat bermanfaat sebagai terapi modalitas perawat, karena memiliki
banyak manfaat, selain itu juga mudah untuk
dilakukan karena tidak memerlukan peralatan yang rumit serta
kontraindikasi terapi ini sangat minim.
Untuk itu perawat harus mampu menerapkan terapi SEFT ini pada pasien selain itu
perawat juga harus selalu memperbaharui pengetahuan tentang terapi ini sehingga
praktik yang dilakukan memiliki evidancebase berbasis bukti.
DAFTAR
PUSTAKA
Zainuddin A.F. (2009). SEFT For Healing, Success, Happiness,
Greatness. Jakarta: Afzan Publishing.
Melisa.
(2012). Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Perilaku Prokrastinasi Akademik
Pada Mahasiswa Universitas Bina Nusantara yang Sedang Mengerjakan Skripsi Pada
Semester Genap. Jakarta : Fakultas Humaniora Jurusan Psikologi Universitas Bina
Nusantara Jakarta
Komariah, L. (2012). Efektivitas Spiritual Emotional Freedom Technique
(SEFT) untuk Menurunkan Perilaku Merokok Pada Mahasiswa. Emphaty 1 (1) 288-299.
Church,
D., Asis, M.A., Brooks, A. (2012). Brief Group Intervention Using Emotional
Freedom Techniques For Depression In College Students: A Randomized Controlled
Trial. Hindawi Publishing Corporation Depression Research and Treatment . 2012
(257172), 1-7.
Anwar, Z. & Triana S., Niagara. (2009). Model Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) untuk Mengatasi Gangguan Fobia Spesifik. Malang: Penelitian dan Pengembangan Iptek Universitas Muhammadiyah Malang
Anwar, Z. & Triana S., Niagara. (2009). Model Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) untuk Mengatasi Gangguan Fobia Spesifik. Malang: Penelitian dan Pengembangan Iptek Universitas Muhammadiyah Malang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar